Pakar Sebut Slow Jogging Bermanfaat Bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Redaksi Mediatangsel
3 Min Read
Foto: Kolase MediaTangsel

MEDIATANGSEL.COM – Ramai di media sosial (medsos) tren olahraga slow jogging. Metode lari dengan tempo santai atau pelan ini mulai banyak diminati karena dinilai lebih ramah bagi pemula, namun tetap menawarkan berbagai manfaat kesehatan.

Seorang pakar kesehatan sekaligus dosen di IPB University, Putri Utami mengatakan secara ilmiah slow jogging bermanfaat bagi kesehatan, terutama dalam meningkatkan kebugaran, kesehatan jantung, serta metabolisme tubuh tanpa memberikan beban fisik yang berlebihan.

Menurut Putri, slow jogging dilakukan pada kecepatan santai. Kondisi ini memungkinkan tubuh bekerja pada zona yang optimal untuk meningkatkan fungsi kardiovaskular dan metabolisme.

“Pada intensitas tersebut, tubuh lebih banyak memanfaatkan lemak sebagai sumber energi dibandingkan glikogen otot,” ujar Putri dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu (25/7/2026).

“Selain membantu mengurangi lemak tubuh, latihan ini juga merangsang pembentukan mitokondria dan pembuluh darah kapiler baru yang utama untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam jangka panjang,” sambungnya.

Meskipun pembakaran kalori per menit lebih rendah dibandingkan jogging konvensional, manfaat adaptasi fisiologis yang dihasilkan dalam jangka panjang sangat mendekati.

Oleh karena itu, Putri menambahkan slow jogging dapat menjadi pilihan olahraga yang efektif tanpa harus memaksakan tubuh bekerja pada intensitas tinggi. “Slow jogging merupakan pintu masuk yang ideal bagi masyarakat yang selama ini jarang berolahraga,” ucapnya.

Putri mengungkapkan, selama ini banyak orang gagal mempertahankan kebiasaan berolahraga karena langsung memilih aktivitas dengan intensitas tinggi.

Padahal, lanjut Putri, lari intensitas tinggi lebih risiko menyebabkan cedera dan kelelahan ekstrem sehingga membuat seseorang enggan kembali berolahraga.

Sementara itu, slow jogging memiliki teknik berlari yang menggunakan pendaratan pada bagian tengah kaki atau midfoot strike, bukan pada tumit. Hal ini membuat risiko cedera ketika slow jogging jauh lebih rendah.

“Nah kalau teknik slow jogging menggunakan pendaratan pada bagian midfoot strike, bukan tumit. Cara ini membantu mengurangi beban kejut pada lutut dan pinggul sehingga risiko cedera menjadi lebih rendah,” tuturnya.

Lebih lanjut Putri menjelaskan, berbagai penelitian juga menunjukkan tingkat kepatuhan latihan slow jogging sangat tinggi, bahkan pada kelompok lanjut usia.

Tak hanya meningkatkan kapasitas kebugaran, olahraga ini terbukti mampu memperbaiki fungsi gerak sehingga cocok diterapkan bagi individu yang sebelumnya memiliki gaya hidup kurang aktif.

Selain manfaat fisik, Putri menyebut slow jogging juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental. Aktivitas ritmis dengan intensitas ringan mampu merangsang pelepasan hormon endorfin, serotonin, dan dopamin yang berperan meningkatkan suasana hati tanpa memicu lonjakan hormon stres secara berlebihan.

Share This Article
Leave a Comment