Mengenal Teba, Sistem Pengolahan Sampah Secara Alami di Kecamatan Ciputat

MEDIATANGSEL.COM – Upaya pengurangan sampah rumah tangga di Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, terus didorong melalui inovasi pengelolaan sampah organik berbasis lingkungan.

Salah satu program terbaru adalah penerapan sistem “Teba”, yakni lubang pengolahan sampah organik yang diolah menjadi pupuk kompos.

Read More

Camat Ciputat Mamat menjelaskan bahwa konsep Teba merupakan metode pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan lubang khusus berukuran sekitar dua meter panjang, 1–1,5 meter lebar, dan kedalaman 1,5–2 meter. Seluruh warga dapat membuang sampah organik—seperti sisa makanan dan bumbu dapur—ke dalam lubang tersebut agar tidak lagi menumpuk dan dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Tujuan utama Teba adalah mengurangi volume sampah rumah tangga yang masuk ke TPA. Sampah organik yang dibuang ke Teba akan terurai dan menjadi pupuk organik dalam waktu sekitar tiga bulan,” ujar Mamat.

Mamat menargetkan program Teba ke depan menjadi program unggulan kecamatan, dengan harapan seluruh RW dapat memiliki Teba, bank sampah, dan Toga (tanaman obat keluarga) sebagai satu kesatuan pengelolaan lingkungan yang mandiri.

“Idealnya setiap RW punya Teba, punya bank sampah, dan punya Toga. Kalau semua berjalan, pengelolaan sampah di Ciputat akan jauh lebih baik,” tegasnya.

Program Teba kini terus digalakkan sebagai langkah konkret mewujudkan lingkungan lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan di wilayah Ciputat.

Saat ini, dari total 105 RW di Kecamatan Ciputat, baru dua RW yang mulai mengoperasikan Teba, salah satunya RW 13 di Perumahan Bukit Nusa Indah yang dijadikan lokasi percontohan.

Meski baru berjalan, sosialisasi terus dilakukan melalui kunjungan langsung ke RW dan program “Baku Kampung” untuk mengenalkan konsep Teba dan bank sampah kepada warga.

Sementara itu, Sutowo, Sekretaris RW 13 mengungkapkan bahwa sebelum program Teba diterapkan, pihaknya sudah lebih dulu mendorong warga menggunakan komposter tong plastik, komposter bata terawang, hingga memasang biopori di halaman rumah agar pengurangan sampah organik bisa dilakukan secara mandiri.

“Sebelum ada Teba, kita sudah membagikan komposter ke warga. Lalu dibantu juga komposter bata terawang dan biopori. Jadi sekarang konsepnya lebih lengkap dengan adanya Teba,” ujar Sutowo.

Ia menjelaskan, penggunaan Teba kini mulai berjalan. Sampah organik dari lingkungan sekitar, termasuk dari pembersihan jalan umum, langsung dibuang ke lubang Teba. Proses pengolahan berjalan alami hingga akhirnya menghasilkan kompos yang sudah mulai dipanen meski masih terbatas.

“Komposnya baru mulai kita panen. Sebagian digunakan sendiri untuk tanaman warga dan kebutuhan penghijauan,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel, Indri Sari Yuniandri, mengatakan salah satu upaya untuk menangani sampah dimulai dari sumber sampah itu sendiri, dari rumah, kantor atau tempat usaha dan lainnya.

“Kami Dinas LH akan terus menggerakkan masyarakat untuk mulai berubah memperlakukan sampah dengan mengurangi dan memilah sampah dari rumah, kemudian secara rutin mengumpulkan sampah non organik ke bank sampah dan untuk sampah organik diolah menjadi kompos atau pengembangbiakan magot. Kami sangat mengapresiasi Camat dan warga RW 13 di Kecamatan Ciputat yang mendorong warganya membuat Teba untuk menangani sampah organik,” ujarnya.

Gerakan 1 RW 1 Bank Sampah dan Gerakan Teba atau sumur kompos ini menjadi salah satu program rencana aksi Dinas Lingkungan Hidup untuk menangani sampah di hulu. Diharapkan masyarakat secara aktif turut serta melakukan gerakan tersebut. [Adv]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *